Hakikat Puasa
Dengan perih kaki berlari,
menjemput Cinta Ilahi
Dengan peluh yang kian
menggerogoti, menanam sabar dalam menahan diri.
Mari pilih jalan untuk
mengabdi, sebab Cinta Allah utuh dan pasti.
Tak ada yang lebih melahirkan
bahagia yang hakiki, kecuali menjadi manusia yang Allah Ridhoi,
Meski jalan penuh duri, namun
semoga teguh tetap terpatri.
Sahabat,
Jalan kehidupan ini memang terjal bagi kita makhluk
yang punya keterbatasan dalam meyakini bahwa janji Allah itu pasti, kita msasih
sangat tertatih dalam mencari jalan yang benar untuk kembali, bahkan jiwa kita masih penuh teirisi oleh perkara duniawi.
Namun taukah? Ada hamba-hamba Allah yang dengan sangat ringan berjalan dimuka bumi
ini tanpa keluh dan kesah; meski peluh dan perih sering menyertai, iiwa mereka
lapang dalam menerima scenario yang Allah
telah susun secara rapih, sebab jiwa mereka telah tertaut pada Dzat yang
mereka cintai, yaitu Allah Sang Pemberi Cinta hakiki. Jiwa-jiwa mereka tenang
serta dipenuhi rasa cinta pada Ilahi dan pada Baginda Nabi.
Lalu, tidakkah kau iri? Pada mereka yang Allah janjikan
tempat tertinggi di akhirat nanti? Tidakkah kau iri? Dengan ketenangan jiwa
yang mereka miliki? Meski perkara dunia sering membuatnya rugi?
Sahabat,
Dipertengah Ramadhan ini, mari kita mengevaluasi diri.
Sudahkan puasa kita melahirkan ketenangan dalam diri? Sudahkan puasa kita
membuat kita mampu untuk menahan diri hingga tak ada nafsu untuk bermkasiat
pada ilahi? Sudahkah puasa kita melunakan lidah hingga taka da lagi hati yang
tersakiti? Sudahkah puasa kita menjadikan mata terjaga dari melihat yang Allah
tidak suaki? Dan sudahkah kita puasa kita menjadikan bibir basah karena mengeja
ayat-ayat Cinta Ilahi! Atau justru puasa kita hanya sekadar menahan lapar dan
haus dari terbit fajar sampai meghrib menghampiri? Lidah masih tajam dalam
mengomentari, telinga masih senang mendengar hal-hal yang tak Allah sukai, mata
masih gemar melihat hal yang mengotori hati, hingga Essensi Puasa tak lagi terasa, sebab tertutupi oleh hal yang
sia-sia.
Sebab, betapa
banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan haus semata, sedang
Allah tak butuh atas puasa mereka. Betapa banyak orang puasa namun ampunan
Allah tak didapatnya, sebab puasanya tak membuatnya terhindar dari perkara yang
sia-sia. Padahal hakikatnya, tujuan puasa adalah menjadikan kita insan bertaqwa
agar syurga berhak kita pinta. Lalu melahirkan syukur dan bijaksana dalam jiwa, hingga dunia tak akan mampu
membuatmu sengsara. Hingga pantas juga kita jadi pemenang dalam ajang olimpiade
taqwa; bersuka cita atas hidayah Allah yang Ia anugerahkan pada kita. Untuknya,
mari kembali merajut asa; membangun pondasi iman dan takwa dengan puasa, hingga
kita berhak mereguk bahagia dengan memandang indahnya wajah Allah di Syurga.
Semoga bermanfaat,
@fulanahfatimah
Komentar
Posting Komentar